Catatan Injil
A
Minggu Biasa

Saling Menolong

Oleh Tim Catatan Injil

Saudaraku yang kekasih, engkau bertindak sebagai orang percaya, di mana engkau berbuat segala sesuatu untuk saudara-saudara, sekalipun mereka adalah orang-orang asing. Mereka telah memberi kesaksian di hadapan jemaat tentang kasihmu. Baik benar perbuatanmu, jikalau engkau menolong mereka dalam perjalanan mereka, dengan suatu cara yang berkenan kepada Allah. Sebab karena nama-Nya mereka telah berangkat dengan tidak menerima sesuatu pun dari orang-orang yang tidak mengenal Allah. Kita wajib menerima orang-orang yang demikian, supaya kita boleh mengambil bagian dalam pekerjaan mereka untuk kebenaran.

3 Yohanes 1:5-8

Latar Belakang

Surat 3 Yohanes itu sangat pendek. Hanya 15 ayat. Tapi isinya sangat berharga.

Waktu itu, ada banyak misionaris yang bepergian dari kota ke kota untuk memberitakan Injil. Yesus pernah mengutus murid-murid-Nya tanpa bekal (Matius 10:9-10). Begitu juga para misionaris ini. Mereka tidak menerima uang dari orang yang tidak mengenal Allah (3 Yohanes 1:7). Jadi, mereka sangat bergantung pada pertolongan dari sesama orang percaya yang mau menyambut mereka di rumahnya.

Yohanes menulis surat ini dari kota Efesus. Waktu itu ia sudah tua. Ia adalah rasul terakhir yang masih hidup. Ia menulis surat ini karena mendengar kabar tentang masalah di jemaat.

Ada seorang bernama Diotrefes. Ia adalah pemimpin jemaat. Tapi ia sombong. Ia tidak mau menerima misionaris yang diutus Yohanes. Ia bahkan mengancam akan mengucilkan jemaat yang membantu misionaris itu.

Berbeda dengan Diotrefes, ada seorang bernama Gayus. Gayus adalah anggota jemaat yang setia. Ia mau menolong siapa saja, termasuk orang yang baru dikenalnya. Ia membuka rumahnya untuk misionaris-misionaris itu. Ia memberi mereka makan dan tempat tinggal sementara. Yohanes memuji Gayus karena ia menolong mereka dengan cara yang berkenan kepada Allah.

Bagi Yohanes, Gayus bukan sekadar orang baik. Ia adalah rekan kerja bagi kebenaran. Ketika ia menolong misionaris, ia ikut serta dalam pekerjaan mereka untuk menyebarkan Injil.

Exegesis: Memahami Lebih Dalam

Yohanes menulis beberapa frasa penting dalam surat ini. Dua frasa yang perlu kita pahami adalah "karena Nama itu" dan "tidak menerima sesuatu pun dari orang-orang yang tidak mengenal Allah". Mari kita bedah satu per satu.

"Karena Nama Itu"

Ada satu frasa dalam 3 Yohanes 1:7 yang sangat penting untuk dipahami:

Sebab karena Nama-Nya mereka telah berangkat dengan tidak menerima sesuatu pun dari orang-orang yang tidak mengenal Allah.
(3 Yohanes 1:7)

Dalam teks Yunani aslinya, frasa ini ditulis: "hyper gar tou onomatos", yang berarti "karena Nama itu". Yohanes tidak menyebut nama "Yesus" secara langsung. Ia hanya menggunakan kata "Nama".

Mengapa ini penting?

Ray Van Neste, komentator dari The Gospel Coalition, menjelaskan bahwa frasa "karena Nama" berarti "untuk kepentingan nama Yesus". Para misionaris pergi bukan untuk kepentingan sendiri, tapi untuk memberitakan nama Yesus kepada orang lain.

Dalam tradisi Perjanjian Lama dan Yudaisme, ada kebiasaan yang sangat dijaga. Orang Yahudi tidak menyebut nama Allah secara sembarangan. Mereka menyebut-Nya "Ha-Shem" (Sang Nama) sebagai pengganti nama YHWH (Tuhan). Ketika Yohanes menggunakan "karena Nama itu" untuk misi Kristen, banyak teolog melihat ini sebagai proklamasi Kristologi yang sangat tinggi: Yesus adalah Tuhan yang memiliki otoritas tertinggi atas segala bangsa.

Mengapa Tidak Menerima Uang dari Orang Pagan?

Informasi ini langsung dari teks Alkitab. 3 Yohanes 1:7 dengan jelas menyatakan:

Sebab karena Nama-Nya mereka telah berangkat dengan tidak menerima sesuatu pun dari orang-orang yang tidak mengenal Allah.
(3 Yohanes 1:7)

Ray Van Neste, komentator dari The Gospel Coalition, menjelaskan bahwa kata Yunani yang dipakai untuk "orang-orang yang tidak mengenal Allah" adalah ethnikos, bukan kata biasa ethnos. Kata ini punya konotasi yang lebih kuat: orang yang tidak hanya non-Yahudi, tapi juga tidak percaya dan menolak Injil.

Mengapa para misionaris sangat ketat menolak uang dari orang pagan?

Pada abad pertama, wilayah Mediterania dipenuhi oleh filsuf keliling. Mereka berjalan dari kota ke kota, berpidato di ruang publik, dan langsung meminta bayaran dari penonton. Mereka sering dicap sebagai "penjual ludah" yang mengeksploitasi orang demi keuntungan pribadi. Hari ini, ekuivalennya bisa kita lihat di mana-mana: motivator yang menjual "rahasia sukses", influencer yang memonetisasi pengikutnya, atau pengkhotbah yang mengharapkan "berkat" dari jemaat. Polanya sama: memberi cerita yang terdengar manis, lalu meminta imbalan.

Yohanes ingin memastikan kekristenan tidak disamakan dengan para filsuf jalanan yang komersial itu. Para misionaris tidak menjual Injil. Mereka memberikannya secara cuma-cuma. Mereka tidak mengemis dari orang pagan. Mereka hanya bergantung pada pertolongan sesama orang percaya.

Dengan cara ini, Injil tampil murni sebagai anugerah, bukan tontonan berbayar.

Saling Menolong: Karena Kita Adalah Sesama Orang Asing

Mengapa kita harus saling menolong? Jawabannya bukan karena kita harus taat kepada aturan agama. Tapi karena kita semua adalah "orang asing" di dunia ini, dan Allah telah menyambut kita terlebih dahulu.

Keramahan: Karena Kristus Telah Menyambut Kita

Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan!
(Roma 12:13)

Berilah tumpangan seorang kepada yang lain dengan tidak bersungut-sungut.
(1 Petrus 4:9)

Kita semuanya dahulu adalah "orang asing" bagi Allah karena dosa kita. Tapi melalui pengorbanan Kristus di salib, Allah tidak mengusir kita. Dia justru menyambut kita, memberikan kita tempat berteduh di dalam kasih-Nya, dan mengadopsi kita menjadi anak-anak-Nya.

Ketika Gayus menolong orang asing (3 Yohanes 1:5), itu adalah respons spontan dari hati yang bersyukur. Karena Kristus telah menyambut aku yang terasing ini, bagaimana mungkin aku menutup pintu bagi saudara seimanku?

Menyokong Pelayanan: Karena Kristus Rela Miskin demi Kita

Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.
(2 Korintus 8:9)

Yohanes meminta Gayus menolong para misionaris dengan cara yang "layak bagi Allah" (3 Yohanes 1:6). Paulus dalam 2 Korintus memberikan landasan logisnya.

Yesus Kristus, Pemilik alam semesta, rela "mengosongkan diri-Nya" dan menjadi miskin di atas salib, agar kita yang miskin secara rohani dapat diangkat menjadi kaya sebagai ahli waris kerajaan Allah.

Saat kita menolong sesama atau mendanai misi "dengan cara yang layak bagi Allah", kita tidak sedang melakukan aksi amal yang merasa lebih tinggi dari yang ditolong. Kita sedang meniru gerakan salib: rela melepaskan kenyamanan kita agar orang lain dikuatkan, sama seperti Kristus yang telah melepaskan segalanya demi kita.

Menjadi Rekan Kerja: Karena Injil Mengikat Kita dalam Satu Misi

Aku mengucap syukur kepada Allahku... karena persekutuanmu dalam Berita Injil mulai dari hari pertama sampai sekarang ini.
(Filipi 1:5)

Yohanes menyebut Gayus sebagai "rekan kerja bagi kebenaran" (3 Yohanes 1:8). Paulus menggunakan konsep yang sama kepada jemaat Filipi yang berkali-kali mengirimkan bantuan untuk menolong pelayanannya.

Kata "persekutuan" yang dipakai Paulus adalah koinonia, yang berarti kepemilikan bersama atas suatu saham. Injil mengikat kita ke dalam satu misi penyelamatan yang sama. Kristus adalah Kepala, dan kita adalah anggota-Nya.

Ketika kita menolong garis depan, kita menyadari bahwa tidak ada "pahlawan tunggal" dalam kerajaan Allah. Keberhasilan misi Demetrius adalah sukacita Gayus. Buah pelayanan Paulus adalah upah jemaat Filipi. Kita saling menolong karena kita sadar kita sedang mengerjakan satu proyek yang sama: meninggikan Nama Yesus di bumi.

Penutup: Misi, Bukan Sekadar Tolong Menolong

Artikel ini membahas tentang misi pekabaran Injil, bukan tentang saling menolong secara umum. Ya, kita memang dipanggil untuk menolong siapa saja dalam segala hal. Tapi 3 Yohanes 1:5-8 punya fokus yang lebih spesifik: mendukung mereka yang pergi memberitakan Injil.

Sebagai sesama orang kudus, tujuan akhir pertolongan kita adalah memuliakan Allah yang lebih dahulu telah menolong kita. Kita menolong bukan karena kita baik, tapi karena Allah telah menyambut kita terlebih dahulu. Kita mendukung misi bukan karena kita harus, tapi karena kita ingin nama Yesus dipermuliakan di tempat yang belum pernah kami datangi.

Jadi, mari kita bertanya: apa yang bisa kita lakukan untuk mendukung pekerjaan misi?

  • Doa. Doakan para misionaris, penginjil, dan pelayan Injil yang sedang bekerja di garis depan.
  • Perhatian. Perhatikan mereka yang melayani. Kirim pesan, sapa mereka, tanya kabar mereka.
  • Pertolongan nyata. Bisa berupa uang, makanan, atau apa pun yang mereka butuhkan. Yang penting, kita mau melakukannya dengan sukacita.
  • Kesediaan pergi. Mungkin Anda tidak dipanggil pergi ke ujung dunia. Tapi mungkin Anda dipanggil pergi ke kampung sebelah, ke kantor, ke sekolah. Mulai dari mana pun, yang penting kita membawa Nama Yesus.

Ingat, kita semua adalah "orang asing" di dunia ini. Tapi kita tidak sendirian. Kita punya sesama orang percaya yang siap menolong. Dan kita punya Allah yang selalu menyertai.


Cerita Fiktif Pendukung

Rina dan Budi duduk di warung kopi selepas gereja. Budi memegang Alkitab kecilnya, masih terbuka di 3 Yohanes.

Rina: Jadi, si Gayus itu cuma kasih tumpangan doang, tapi Yohanes bilang dia "rekan kerja bagi kebenaran"? Kok bisa ya?

Budi: Karena yang dilakukan Gayus itu bukan sekadar kasih tumpangan. Dia mendukung pekerjaan misi. Para misionaris itu pergi dari kota ke kota memberitakan Injil. Mereka tidak punya uang. Mereka tidak terima dari orang non-Kristen. Jadi kalau Gayus tidak menolong, siapa yang mau menolong?

Rina: Oh, jadi konteksnya memang spesifik ya? Bukan saling menolong secara umum, tapi untuk misi?

Budi: Tepat. Dan ini penting. Karena kalau kita baca 3 Yohanes tanpa konteks misi, kita bisa salah paham. Kita pikir ini cuma soal jadi orang baik. Tapi sebenarnya ini soal bagaimana kita berpartisipasi dalam pekerjaan Allah menyelamatkan bangsa-bangsa.

Rina: Terus, apa hubungannya dengan kita? Kita kan bukan misionaris.

Budi: (tersenyum) Kita semua adalah "orang asing" di dunia ini. Kita tidak punya rumah tetap di sini. Kita sedang dalam perjalanan menuju Surga. Dan selama perjalanan itu, kita saling menolong. Kita menolong mereka yang di garis depan, dan mereka yang di garis depan menolong kita dengan memberitakan Injil.

Rina: Jadi kita semua itu seperti... rombongan yang sama?

Budi: Persis! Kita satu rombongan. Kristus adalah Kepala rombongan. Kita semua anggotanya. Ada yang di depan, ada yang di belakang, ada yang di sayap kiri dan kanan. Tapi tujuannya sama: meninggikan Nama Yesus.

Rina: (mengangguk pelan) Jadi setiap kali kita menolong pelayan Injil, kita sebenarnya sedang...

Budi: ...sedang menjadi rekan kerja bagi kebenaran. Seperti yang dikatakan Yohanes kepada Gayus. Kita tidak hanya menolong orang. Kita sedang menolong pekerjaan Allah.

*Rina: (berdiri, mengambil tas) Oke, aku paham sekarang. Jadi mulai besok, aku mulai dari yang kecil dulu ya? Doakan misionaris di Sulawesi itu?

Budi: (mengangguk) Itu sudah sangat bagus. Dan kalau ada kesempatan untuk menolong secara nyata, jangan ragu. Karena setiap pertolongan kita adalah bagian dari cerita yang lebih besar: cerita tentang Injil yang sampai ke ujung bumi.

Bagikan:

Artikel Terkait