Catatan Injil
A
Minggu Biasa

Tenanglah, Jangan Takut

Oleh Tim Catatan Injil

22Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. 23Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ. 24Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal. 25Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air. 26Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: “Itu hantu!”, lalu berteriak-teriak karena takut. 27Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” 28Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.” 29Kata Yesus: “Datanglah!” Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. 30Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: “Tuhan, tolonglah aku!” 31Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” 32Lalu mereka naik ke perahu dan anginpun redalah. 33Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: “Sesungguhnya Engkau Anak Allah.”

Matius 14:22-33

Latar Belakang

Setelah Mukjizat Besar

Bayangkan suasananya. Hari itu orang banyak baru saja makan sampai kenyang. Bukan karena katering besar, tapi karena Yesus mengambil lima roti dan dua ikan, lalu memberi makan ribuan orang (Mat. 14:19-21). Semua pasti kagum. Murid-murid juga baru melihat kuasa Yesus dengan mata sendiri.

Tetapi setelah itu, Yesus justru menyuruh mereka naik ke perahu dan pergi lebih dulu ke seberang (Mat. 14:22). Mereka tidak sedang memilih rute yang salah. Mereka pergi karena Yesus sendiri yang memerintahkan.

Sementara itu, Yesus naik ke bukit untuk berdoa seorang diri. Ia mengirim orang banyak pulang, lalu mengambil waktu sendirian bersama Bapa (Mat. 14:23). Di darat, Yesus berdoa. Di laut, murid-murid mulai menghadapi masalah.

Perahu yang Tidak Kunjung Sampai

Danau Galilea memang bisa tiba-tiba berubah ganas. Danau itu dikelilingi bukit-bukit. Ketika angin turun dari daerah pegunungan, permukaan air bisa langsung bergelombang besar. Perahu kecil mudah diombang-ambingkan.

Matius berkata perahu itu sudah beberapa mil dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang karena angin sakal (Mat. 14:24). Perjalanan mereka terhambat. Teks tidak merinci usaha mereka atau menyebut mereka hampir tenggelam; yang jelas, perahu itu terus diombang-ambingkan.

Yang membuatnya lebih berat, semua ini terjadi setelah mereka menaati Yesus. Kadang kita berpikir, kalau kita mengikuti perintah Tuhan, jalan pasti lancar. Tetapi cerita ini menunjukkan hal yang berbeda. Murid-murid bisa berada tepat di tempat yang Yesus minta, namun tetap menghadapi angin yang melawan.

Mengikuti perintah Tuhan tidak akan menjamin jalan kita akan lancar.

Catatan Injil

Yesus Datang Saat Mereka Takut

Menjelang pagi, kira-kira jam tiga malam, Yesus datang kepada mereka dengan berjalan di atas air (Mat. 14:25). Murid-murid melihat sosok yang berjalan di atas air, tetapi mereka tidak langsung mengenali-Nya.

Mereka mengira itu hantu. Mereka berteriak karena takut (Mat. 14:26). Ironisnya, Pribadi yang datang untuk menolong justru pertama-tama mereka kira sebagai ancaman.

Lalu Yesus berkata:

Tenanglah! Aku ini, jangan takut!
(Matius 14:27)

Angin belum reda. Yesus lebih dulu memberi mereka kehadiran dan perkataan-Nya. Sebelum keadaan berubah, mereka perlu tahu siapa yang datang mendekat.

Scotty Smith dari The Gospel Coalition menulis bahwa kita sering takut terhadap hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan. Dalam badai, angin dan gelombang memang tidak langsung hilang. Tetapi ketika pandangan kita tertuju kepada Yesus, ketakutan tidak lagi bebas menguasai hati kita.

Eksegesis

“Tenanglah! Aku Ini”

Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!
(Matius 14:27)

Kalimat Yesus ini pendek, tetapi sangat dalam. Dalam bahasa Yunani, “tenanglah” berasal dari kata tharseite (θαρσεῖτε), yang berarti berani, kuatkan hati, atau jangan kehilangan keberanian. Ini bukan sekadar “santai saja.” Yesus sedang memberi perintah kepada murid-murid yang sedang panik: “Kuatkan hati kalian.”

Lalu Yesus berkata, “Aku ini.” Dalam bahasa Yunani, frasa ini adalah egō eimi (ἐγώ εἰμι), secara harfiah berarti “Aku adalah.” Frasa ini bisa dipakai dalam percakapan biasa, tetapi dalam konteks Alkitab, bunyinya juga mengingatkan kita pada cara Allah menyatakan nama-Nya kepada Musa: “Aku adalah Aku” (Kel. 3:14).

Matius tidak sedang mengatakan bahwa setiap kemunculan egō eimi otomatis berarti Yesus sedang mengucapkan nama ilahi. Tetapi dalam cerita ini, Yesus sedang melakukan sesuatu yang hanya Allah lakukan. Ia berjalan di atas air, lalu para murid menyembah-Nya. Ada petunjuk kuat bahwa mereka sedang melihat kehadiran Allah dalam diri Yesus.

Benjamin L. Gladd dari The Gospel Coalition menjelaskan bahwa kisah Yesus berjalan di atas air perlu dibaca dengan latar Perjanjian Lama. Dalam Ayub 9:8, hanya Allah yang “menginjak-injak gelombang laut.” Mazmur juga menggambarkan jalan Allah melalui laut dan langkah-Nya yang tidak terlihat (Mzm. 77:20). Jadi, Yesus bukan sekadar menunjukkan kemampuan ajaib. Ia sedang menyatakan bahwa Ia berkuasa atas wilayah yang manusia tidak bisa kuasai.

Badai Ada di Dalam Kehendak Yesus

Matius sengaja menulis bahwa Yesus memerintahkan murid-murid naik ke perahu (Mat. 14:22). Ini penting. Mereka tidak tersesat karena salah jalan. Mereka tidak berada di danau karena memberontak. Mereka masuk ke dalam badai ketika sedang menaati perintah Yesus.

Kata Yunani yang dipakai untuk “angin sakal” adalah enantios (ἐναντίος), yang berarti berlawanan, menghadang, atau melawan arah. Angin itu bukan sekadar bertiup kencang. Angin itu membuat perjalanan mereka bertentangan dengan tujuan yang hendak dicapai.

Ini sering juga terjadi dalam hidup kita. Kita sudah berusaha taat, tetapi tetap ada tekanan. Kita sudah berdoa, tetapi masalah belum selesai. Kita sudah mengambil langkah yang benar, tetapi rasanya semua keadaan justru melawan.

Namun, badai itu tidak berarti Yesus kehilangan kendali. Ia berada di bukit, berdoa. Ia tahu keadaan mereka. Bahkan ketika mereka tidak melihat-Nya, mereka tetap berada dalam perhatian-Nya. Wendy Alsup dari The Gospel Coalition menekankan pola ini: Allah sering menjumpai umat-Nya lebih dulu dalam kesendirian dan ketakutan, sebelum keadaan luar berubah.

“Berjalan di Atas Air”

Matius memakai kata Yunani peripateō (περιπατέω), yang berarti berjalan. Kata ini biasanya dipakai untuk aktivitas berjalan biasa. Matius sengaja memakai kata sederhana untuk menggambarkan tindakan yang luar biasa: Yesus berjalan di atas air seperti seseorang berjalan di darat.

Air dalam Alkitab sering menjadi gambaran kekacauan dan ancaman. Dalam kisah penciptaan, Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air yang belum tertata (Kej. 1:2). Dalam kisah air bah, air menjadi alat penghakiman. Dalam banyak mazmur, laut dan gelombang menggambarkan kekuatan yang tidak bisa dikendalikan manusia (Mzm. 69:2-3).

Tetapi Yesus berdiri di atas air. Ia tidak ditelan kekacauan. Ia tidak ditentukan oleh gelombang. Ia berjalan di atasnya.

Kontrasnya jelas: murid-murid berjuang di dalam badai, sementara Yesus datang di atas badai. Mereka melihat angin sebagai kuasa terbesar. Tetapi Matius ingin pembaca melihat bahwa kuasa terbesar bukan angin, bukan gelombang, dan bukan ketakutan. Kuasa terbesar adalah Yesus.

Iman Kecil, Bukan Tidak Ada Iman

Petrus meminta, “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air” (Mat. 14:28). Petrus tidak langsung melompat tanpa perintah. Ia meminta firman Yesus lebih dulu.

Yesus menjawab, “Datanglah.” Kata ini adalah elthe (ἐλθέ), bentuk perintah dari kata erchomai, yang berarti datanglah, bergeraklah menuju ke sini. Petrus berjalan bukan karena keberanian dirinya sendiri. Ia berjalan karena Yesus memanggilnya.

Setelah mendengar perintah Yesus, Petrus berjalan. Tetapi ketika ia menyadari tiupan angin, ia takut dan mulai tenggelam (Mat. 14:30). Matius tidak berkata bahwa angin baru muncul setelah Petrus turun. Angin sudah ada sejak awal. Yang berubah adalah respons Petrus terhadap keadaan itu.

Scott Hubbard dari Desiring God menyebut istilah yang dipakai Yesus untuk “kurang percaya” sebagai oligopistos (ὀλιγόπιστος), gabungan dari kata oligos yang berarti “sedikit” dan pistis yang berarti “iman.” Petrus tidak disebut sama sekali tidak percaya. Imannya nyata, tetapi kecil dan mudah bergeser.

Ini kabar baik bagi kita. Yesus tidak berkata kepada Petrus, “Kamu tidak punya iman sama sekali.” Ia bertanya, “Mengapa engkau bimbang?” Iman Petrus lemah, tetapi ia tetap memanggil Yesus: “Tuhan, tolonglah aku.” Iman yang kecil tetap dapat berpegang kepada Kristus yang besar.

Yesus Memegang Sebelum Petrus Tenggelam

Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?”
(Matius 14:31)

Kata “segera” dalam teks Yunani adalah eutheōs (εὐθέως). Artinya langsung, seketika, tanpa penundaan. Petrus berseru, lalu Yesus segera mengulurkan tangan.

Matius tidak menggambarkan Yesus berdiri jauh sambil berteriak, “Petrus, kamu harus punya iman lebih besar!” Yesus menolong Petrus lebih dulu. Setelah itu barulah Ia menegur kebimbangannya.

Jared C. Wilson dari The Gospel Coalition memperhatikan hal yang sama: Petrus mulai takut ketika menyadari tiupan angin, tetapi ketika ia mulai tenggelam, Yesus tetap memegangnya. Iman Petrus tidak menyelamatkan Petrus sebagai prestasi. Tangan Yesus yang menyelamatkan dia.

Bukan seberapa kuat kita memegang Tuhan, tetapi Tuhan yang memegang kita.

Catatan Injil

Di sinilah kita perlu berhati-hati. Cerita ini bukan terutama ajakan untuk menjadi seperti Petrus dan berani turun dari perahu. Fokus utama Matius bukan keberanian Petrus. Fokusnya adalah identitas dan kuasa Yesus. Pada akhir cerita, para murid tidak menyembah Petrus karena ia pernah berjalan di atas air. Mereka menyembah Yesus dan berkata:

Sesungguhnya Engkau Anak Allah.
(Matius 14:33)

Pusat cerita bukan “lihat apa yang bisa dilakukan orang yang punya iman.” Pusatnya adalah “lihat siapa Yesus yang datang kepada umat-Nya di tengah badai.”

Pesan Injil

Yesus Datang ke Tengah Badai

Kisah ini bukan terutama tentang cara kita menjadi cukup berani untuk berjalan di atas air. Kisah ini tentang Yesus yang datang kepada murid-murid ketika mereka tidak berdaya.

Murid-murid tidak memanggil Yesus sebelum Ia datang. Mereka tidak berhasil mengatasi badai dengan iman yang kuat. Mereka hanya berjuang di perahu, sementara Yesus datang mendekat. Keselamatan dimulai bukan dari keberanian manusia, tetapi dari inisiatif Kristus.

Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”
(Matius 14:27)

Yesus tidak berkata, “Tenanglah karena badai sebentar lagi hilang.” Ia berkata, “Tenanglah karena Aku ini.” Dasar ketenangan kita bukan keadaan yang sudah aman. Dasarnya adalah kehadiran Yesus di tengah keadaan yang belum aman.

Yesus adalah Tuhan atas Laut dan Kekacauan

Dalam Perjanjian Lama, laut sering menjadi gambaran kekuatan yang kacau dan menakutkan. Tetapi Allah berkuasa atas laut. Ia membelah Laut Teberau, berjalan di atas gelombang, dan menyelamatkan umat-Nya dari air yang mengancam (Kel. 14:21-22; Mzm. 77:20).

Sekarang Yesus melakukan sesuatu yang menjadi tanda kuasa Allah. Ia berjalan di atas air. Ia datang bukan sebagai guru yang hanya memberi nasihat dari jauh. Ia datang sebagai Anak Allah, Tuhan yang memiliki kuasa atas ciptaan.

Benjamin L. Gladd dari The Gospel Coalition menunjukkan bahwa kisah berjalan di atas air mengingatkan pembaca kepada Ayub 9:8, yang berkata bahwa hanya Allah yang menginjak-injak gelombang laut. Jadi ketika para murid menyembah Yesus dan mengaku, “Sesungguhnya Engkau Anak Allah,” mereka sedang merespons penyataan identitas Yesus.

Badai tidak lebih besar daripada Kristus. Angin tidak lebih berkuasa daripada Kristus. Bahkan ketika kita tidak memahami apa yang sedang terjadi, kita tidak pernah berada di luar pemerintahan-Nya.

Yesus yang Tidak Tenggelam Menggenggam Kita

Petrus mulai tenggelam ketika melihat angin. Ia benar-benar takut. Ia tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri. Tetapi ia masih bisa berteriak:

Tuhan, tolonglah aku!
(Matius 14:30)

Dan Yesus segera mengulurkan tangan-Nya.

Di sini kita melihat gambaran kecil tentang Injil. Kita sering mengira keselamatan bergantung pada kuatnya iman kita. Kita takut, “Kalau imanku terlalu kecil, apakah Yesus masih mau menolongku?” Tetapi Matius menunjukkan bahwa iman Petrus memang kecil, sementara tangan Yesus tetap kuat.

Yesus tidak membiarkan Petrus tenggelam sebagai hukuman karena ia ragu. Ia memegang Petrus, lalu menegurnya. Teguran Yesus datang bersama pertolongan-Nya, bukan menggantikan pertolongan-Nya.

Kita diselamatkan bukan karena kita tidak pernah takut. Kita diselamatkan karena Kristus memegang orang yang berseru kepada-Nya. Bahkan iman yang gemetar dapat datang kepada Juruselamat yang tidak pernah gagal.

Kristus Menghadapi Badai yang Lebih Dalam

Matius 14 menunjukkan Yesus menolong murid-murid dalam badai. Tetapi Injil membawa kita melihat badai yang lebih dalam, yaitu dosa, penghakiman, dan kematian.

Di danau, Petrus hampir tenggelam karena melihat angin. Di kayu salib, Yesus dengan sengaja masuk ke dalam penderitaan yang jauh lebih berat. Ia tidak tenggelam karena dosa-Nya sendiri. Ia menanggung dosa kita.

Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.
(2 Korintus 5:21)

Di danau, Yesus mengulurkan tangan dan menyelamatkan Petrus. Di salib, Ia menyerahkan tangan-Nya untuk dipaku demi menyelamatkan umat-Nya. Di danau, angin akhirnya reda. Di salib, Yesus menanggung murka Allah sampai tuntas, lalu bangkit mengalahkan maut.

Karena itu, perkataan “jangan takut” bukan kalimat kosong. Yesus bukan hanya tahu rasanya berada dekat dengan bahaya. Ia sudah menanggung penghakiman yang seharusnya kita terima. Ia mati dan bangkit supaya orang berdosa dapat berdamai dengan Allah.

Tenang Karena Kristus Sudah Menang

Kita masih hidup di tengah badai. Penyakit bisa belum sembuh. Masalah keluarga bisa belum selesai. Penghasilan bisa belum cukup. Doa bisa terasa belum dijawab. Injil tidak menjanjikan bahwa setiap badai langsung berhenti ketika kita percaya kepada Yesus.

Tetapi Injil memberi sesuatu yang lebih dalam. Kristus sudah mati, bangkit, dan memerintah. Tidak ada penderitaan yang dapat memisahkan kita dari kasih-Nya (Rm. 8:35-39). Ia tidak selalu mengubah keadaan sesuai jadwal kita, tetapi Ia tidak pernah meninggalkan umat yang menjadi milik-Nya.

Scotty Smith dari The Gospel Coalition menulis bahwa kasih Kristus tidak selalu menghapus alasan kita untuk merasa takut. Namun, ketika kita semakin melihat keindahan, kedekatan, belas kasihan, dan kuasa Yesus, ketakutan tidak lagi bebas menguasai hati kita.

Jadi, “Tenanglah, jangan takut” bukan berarti, “Kamu harus menjadi orang yang tidak pernah panik.” Artinya, “Ketika kamu takut, lihatlah kepada Kristus. Ia datang kepadamu. Ia adalah Tuhan. Ia sudah menanggung dosamu. Ia memegangmu. Ia akan membawamu sampai ke seberang.”

Aplikasi untuk Kehidupan

1. Bawa Ketakutan Kepada Yesus

Murid-murid tidak menyembunyikan ketakutan mereka. Mereka berteriak. Petrus juga tidak menyusun doa panjang ketika mulai tenggelam. Ia hanya berseru:

Tuhan, tolonglah aku!
(Matius 14:30)

Kita boleh datang kepada Yesus dengan doa yang sederhana. “Tuhan, aku takut.” “Tuhan, aku bingung.” “Tuhan, aku sudah tidak kuat.” Doa seperti itu bukan tanda iman yang gagal. Itu tanda bahwa kita tahu siapa yang bisa menolong.

Jangan menunggu sampai hati tenang dulu baru berdoa. Datanglah kepada Yesus justru ketika hati sedang kacau. Ia tidak meminta kita membuat kalimat yang sempurna. Ia meminta kita datang kepada-Nya.

Langkah kecil minggu ini: setiap kali rasa takut muncul, berhenti sebentar dan ucapkan, “Tuhan Yesus, Engkau ada di sini. Tolonglah aku.”

2. Bedakan Fakta dan Ketakutan

Murid-murid melihat angin dan gelombang. Itu fakta. Badai mereka nyata. Alkitab tidak menyuruh kita berpura-pura bahwa masalah tidak ada.

Tetapi ketakutan sering menambahkan cerita lain: “Aku sendirian.” “Ini pasti berakhir buruk.” “Tuhan sudah meninggalkanku.” “Aku tidak akan sanggup melewati ini.” Cerita-cerita itu belum tentu fakta.

Scott Hubbard dari Desiring God menulis bahwa iman yang dewasa tidak menutup mata terhadap badai. Iman melihat angin, tetapi juga mengingat semua bukti tentang kesetiaan Yesus. Kita melihat masalah, lalu mengingat bahwa Kristus sudah mati dan bangkit bagi kita.

Coba tuliskan dua hal ketika sedang cemas:

  • Apa yang benar-benar sedang terjadi?
  • Apa yang sedang kutakutkan, tetapi belum tentu terjadi?

Lalu tambahkan pertanyaan ketiga: Apa yang sudah Yesus lakukan bagiku? Ia sudah mengampuni dosa, memberikan Roh Kudus, dan berjanji tidak meninggalkan umat-Nya.

3. Jangan Mengukur Keselamatan dari Kuatnya Iman

Petrus memang disebut kurang percaya. Ia bimbang. Tetapi ketika ia mulai tenggelam, Yesus tidak meninggalkannya.

Ada hari ketika iman kita terasa kuat. Ada juga hari ketika kita hanya mampu berbisik, “Tuhan, tolonglah aku.” Jangan mengira Yesus hanya mau menolong orang yang imannya selalu mantap.

Kita tidak diselamatkan oleh kualitas iman kita. Kita diselamatkan oleh Kristus yang menjadi tujuan iman kita. Iman yang kecil tetap memandang Juruselamat yang besar.

Ini bukan alasan untuk memelihara keraguan. Kita tetap dipanggil untuk bertumbuh dalam iman melalui Firman, doa, dan persekutuan. Tetapi pertumbuhan itu terjadi karena kita sudah dipegang oleh anugerah, bukan supaya kita layak dipegang.

4. Jangan Menghadapi Badai Sendirian

Murid-murid berada dalam satu perahu. Petrus memang turun sendirian, tetapi ia tidak diselamatkan sendirian. Yesus menolongnya, lalu mereka kembali ke perahu bersama-sama.

Ketika takut, kita sering ingin menghilang. Kita tidak mau orang lain tahu bahwa kita sedang lemah. Padahal Kristus memberikan gereja sebagai komunitas tempat kita boleh ditolong, didoakan, dan diingatkan kembali kepada Injil.

Ceritakan pergumulanmu kepada satu orang percaya yang dewasa dan dapat dipercaya. Minta ia mendoakanmu. Hadiri persekutuan meskipun perasaanmu sedang tidak baik. Kadang Tuhan menguatkan kita melalui tangan dan suara saudara seiman.

Kita tidak dipanggil menjadi pahlawan yang tidak pernah takut. Kita dipanggil untuk tetap datang kepada Kristus dan berjalan bersama umat-Nya.

5. Berhenti Mencari Ketenangan dari Kendali Diri

Kita sering ingin tenang dengan cara mengontrol semuanya. Kita membuat banyak rencana, memeriksa semua kemungkinan, mengulang percakapan dalam pikiran, dan mencoba memastikan tidak ada hal buruk yang terjadi.

Tetapi kita tidak pernah benar-benar menguasai angin. Kita tidak bisa mengatur keputusan orang lain, kesehatan masa depan, keadaan ekonomi, atau kapan doa kita dijawab.

Ketenangan Kristen bukan hasil dari kemampuan mengontrol semua hal. Ketenangan Kristen lahir dari percaya kepada Pribadi yang memegang kendali ketika kita tidak mampu memegang kendali.

Sebelum tidur, serahkan satu hal yang tidak bisa kamu kontrol kepada Yesus. Katakan dengan jujur, “Tuhan, ini terlalu besar bagiku. Aku menyerahkannya kepada-Mu. Tolong aku melakukan bagian yang harus kulakukan hari ini.”

Pertanyaan untuk Direnungkan

  • Badai apa yang sedang paling membuatku takut?
  • Apakah aku sedang melihat masalah saja, atau juga mengingat siapa Yesus?
  • Apakah aku sudah membawa ketakutan itu kepada Tuhan dalam doa?
  • Siapa satu orang percaya yang bisa kuhubungi untuk berdoa bersamaku?
  • Apa satu langkah ketaatan yang bisa kulakukan hari ini tanpa harus mengetahui seluruh masa depan?

Yesus berkata, “Tenanglah! Aku ini, jangan takut.” Bukan karena hidup selalu bebas badai. Bukan karena kita selalu punya iman yang besar. Kita boleh tenang karena Kristus datang, Kristus memegang, Kristus sudah menang, dan Kristus tidak akan meninggalkan kita.


📖 Cerita Fiktif Pendukung

Dialog fiktif antara Riko, jemaat yang sedang cemas, dan Sari, teman yang membantunya memahami Matius 14.


Riko: Sar, aku sudah baca Matius 14. Tapi aku masih merasa bagian ini agak menekan. Seolah-olah kalau aku takut berarti imanku kecil.

Sari: Petrus memang disebut “kurang percaya”, tapi jangan lupa urutannya. Sebelum menegur Petrus, Yesus lebih dulu mengulurkan tangan dan memegangnya.

Riko: Jadi Yesus nggak menunggu Petrus punya iman besar dulu?

Sari: Nggak. Petrus sedang tenggelam ketika Yesus menolongnya. Itu inti kabar baiknya. Kita tidak diselamatkan karena iman kita selalu kuat. Kita diselamatkan karena Kristus kuat.

Riko: Tapi kenapa Yesus membiarkan murid-murid masuk ke badai? Mereka kan masuk perahu karena diperintah Yesus.

Sari: Nah, itu salah satu bagian yang penting. Mengikuti Yesus bukan berarti hidup langsung bebas masalah. Kadang kita justru menghadapi angin sakal saat sedang taat. Badai bukan selalu tanda kita salah jalan.

Riko: “Angin sakal” maksudnya angin yang melawan arah?

Sari: Betul. Kata itu menggambarkan sesuatu yang menghadang. Murid-murid menghadapi perahu yang diombang-ambingkan, tetapi Matius tidak merinci usaha mereka. Mirip dengan kita saat sudah berdoa, bekerja, dan melakukan yang benar, tetapi masalah tetap terasa melawan.

Riko: Terus Yesus datang berjalan di atas air. Kenapa murid-murid malah mengira Dia hantu?

Sari: Karena mereka sedang takut. Kadang rasa takut membuat pertolongan Tuhan terlihat seperti ancaman. Mereka melihat sosok di tengah gelap, lalu langsung menyimpulkan yang paling buruk.

Riko: Lalu Yesus bilang, “Tenanglah! Aku ini, jangan takut.”

Sari: Iya. “Tenanglah” berasal dari kata tharseite, yang berarti kuatkan hati atau jangan kehilangan keberanian. Yesus bukan bilang badai itu tidak nyata. Ia bilang mereka tidak perlu dikuasai ketakutan karena Ia ada di sana.

Riko: “Aku ini” juga punya arti khusus, kan?

Sari: Dalam bahasa Yunani, egō eimi, “Aku adalah.” Kita tidak boleh sembarangan menyimpulkan setiap pemakaian kata itu pasti berarti nama Allah. Tetapi di sini Yesus sedang melakukan hal yang sangat besar. Ia berjalan di atas air, sesuatu yang dalam Perjanjian Lama hanya Allah lakukan. Ayub 9:8 bilang Allah menginjak-injak gelombang laut.

Riko: Jadi murid-murid sedang melihat siapa Yesus sebenarnya?

Sari: Tepat. Ia bukan cuma guru yang punya mukjizat. Ia adalah Anak Allah, Tuhan atas laut, angin, dan kekacauan.

Riko: Tapi Petrus juga sempat berjalan di atas air. Berarti kita harus berani seperti Petrus dan keluar dari perahu?

Sari: Jangan jadikan Petrus pusat ceritanya. Matius tidak sedang mengajar kita mencari pengalaman spektakuler. Petrus bisa berjalan karena Yesus berkata, “Datanglah.” Begitu ia melihat angin dan takut, ia mulai tenggelam. Pusat cerita bukan keberanian Petrus, tetapi tangan Yesus yang memegang Petrus.

Riko: Jadi masalah Petrus bukan anginnya baru muncul?

Sari: Bukan. Angin sudah ada dari awal. Matius tidak secara langsung mengatakan mata Petrus tertuju kepada Yesus. Tetapi urutannya menunjukkan bahwa ia mula-mula bertindak atas perkataan Yesus, lalu takut ketika menyadari angin. Perhatiannya bergeser.

Riko: Itu seperti aku. Masalahku memang nyata, tapi lama-lama masalah itu terasa lebih besar daripada Tuhan.

Sari: Iya. Iman bukan pura-pura tidak melihat masalah. Iman melihat masalah, lalu mengingat siapa Yesus. Scott Hubbard menjelaskan bahwa oligopistos, “kurang percaya,” bukan berarti Petrus tidak punya iman sama sekali. Imannya kecil, tetapi nyata.

Riko: Berarti kalau aku cuma bisa berdoa, “Tuhan, tolonglah aku,” itu masih iman?

Sari: Itu justru contoh iman yang datang kepada Kristus. Doa itu tidak panjang, tapi Petrus tahu harus berteriak kepada siapa. Dan Yesus segera menolongnya. Kata “segera” menunjukkan bahwa Yesus tidak menunda-nunda pertolongan-Nya.

Riko: Tapi apakah ini berarti setiap kali kita berdoa, badai pasti langsung berhenti?

Sari: Tidak. Matius 14 tidak menjanjikan semua masalah langsung selesai. Angin baru reda setelah Yesus dan Petrus naik ke perahu. Dalam hidup kita, ada badai yang Tuhan hentikan cepat. Ada juga yang berlangsung lama.

Riko: Kalau begitu, apa maksudnya kita bisa tenang?

Sari: Kita tenang bukan karena keadaan selalu aman. Kita tenang karena Yesus datang, Yesus berkuasa, dan Yesus memegang kita. Ia bahkan menghadapi badai yang lebih dalam di kayu salib.

Riko: Badai yang lebih dalam?

Sari: Dosa, penghakiman, dan kematian. Di danau, Petrus hampir tenggelam karena takut. Di salib, Yesus masuk ke dalam penderitaan dengan sengaja. Ia tidak menanggung dosa-Nya sendiri, tetapi dosa kita. Ia mati dan bangkit supaya kita didamaikan dengan Allah.

Riko: Jadi “jangan takut” bukan sekadar kalimat supaya aku merasa lebih baik?

Sari: Bukan. Dasarnya karya Kristus. Kita boleh datang kepada Tuhan ketika takut karena dosa kita sudah ditanggung. Kita boleh berseru karena Kristus sudah membuka jalan kepada Bapa. Kita boleh berharap karena Ia bangkit dan berkuasa.

Riko: Terus, apa yang harus kulakukan saat cemas datang lagi?

Sari: Pertama, bawa langsung kepada Yesus. Doakan saja, “Tuhan, aku takut. Tolonglah aku.” Kedua, bedakan fakta dan ketakutan. Fakta: kamu sedang menghadapi masalah. Ketakutan mungkin berkata, “Aku sendirian dan semuanya pasti hancur.” Itu belum tentu benar.

Riko: Lalu aku harus mengingat apa yang sudah Yesus lakukan?

Sari: Iya. Ingat salib, kebangkitan, pengampunan, dan janji penyertaan-Nya. Jangan hanya melihat angin. Lihat juga Kristus.

Riko: Kalau imanku sedang lemah?

Sari: Jangan mengukur keselamatan dari kuatnya imanmu. Datanglah dengan iman yang kecil kepada Kristus yang besar. Tetap baca Firman, berdoa, dan minta bantuan jemaat. Kamu tidak harus menghadapi badai sendirian.

Riko: Jadi gereja juga bagian dari pertolongan Tuhan?

Sari: Sering kali begitu. Murid-murid ada di satu perahu. Petrus diselamatkan oleh Yesus, lalu kembali ke perahu bersama yang lain. Tuhan bisa memakai saudara seiman untuk mendoakan, menguatkan, dan mengingatkan kita kepada Injil.

Riko: Aku mulai paham. Tenang bukan berarti tidak pernah takut.

Sari: Benar. Tenang berarti takut, tetapi tetap datang kepada Yesus. Menangis, tetapi tetap berseru kepada-Nya. Tidak tahu apa yang terjadi besok, tetapi percaya bahwa Kristus memegang kita.

Riko: Dan akhir ceritanya bukan Petrus jadi pahlawan?

Sari: Bukan. Akhirnya semua murid menyembah Yesus dan berkata, “Sesungguhnya Engkau Anak Allah.” Dari ketakutan menuju penyembahan. Dari badai menuju pengenalan yang lebih dalam tentang Kristus.

Riko: Kalau begitu, kalimat untuk minggu ini apa?

Sari: Tenanglah, jangan takut. Bukan karena badai kecil, tetapi karena Yesus besar. Ia datang kepada kita, memegang kita, mati dan bangkit bagi kita, lalu tidak akan meninggalkan kita.

Riko: Aku mau mengingat itu malam ini.

Sari: Dan kalau kamu lupa lagi besok?

Riko: Aku berseru lagi, “Tuhan, tolonglah aku.”

Sari: Itu awal yang baik. Tangan Yesus masih sama kuatnya.

Bagikan:

Artikel Terkait